Akhir-akhir ini, meningkatnya ketidakpuasan terhadap kondisi sosial, politik, dan ekonomi di Indonesia telah memunculkan tren di kalangan anak muda, khususnya mahasiswa. Mereka dihadapkan dilema bertahan dan berjuang memperbaiki keadaan, atau memilih pergi ke luar negeri mencari kehidupan yang lebih baik.
Fenomena ini menjadi perbincangan dalam Kuliah Umum yang diselenggarakan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) Soegijapranata Catholic University (SCU) pada Rabu, 26 Maret 2025 secara daring. Topik “Indonesia Gelap: Mahasiswa Kabur Aja Dulu atau Beraksi Jadi Solusi?” menyoroti peran mahasiswa dalam merespons tantangan tersebut.
Menghadirkan Dosen Psikologi SCU Bartolomeus Yofana Adiwena, MSi dan Dosen Ilmu Komunikasi SCU Fidelis Aggiornamento Saintio, MIKom, mereka menegaskan bahwa kondisi saat ini memang membuat kalangan muda di Indonesia frustasi. Bukan bertahan atau pergi, mahasiswa semestinya menanggapi hal ini sebagai tantangan untuk bisa mengambil peran sebagai agen perubahan.
Digitalisasi Aktivisme: Jalan Baru untuk Bergerak?
Dalam diskusi ini, Fidelis menyoroti bagaimana aktivisme mahasiswa saat ini telah mengalami transformasi besar. Jika dulu protes dilakukan di jalan, kini banyak perlawanan muncul dalam bentuk digital.
“Kita hidup di era di mana satu cuitan di Twitter bisa lebih berpengaruh daripada demo di jalan. Tetapi pertanyaannya, apakah kita sekadar marah-marah di media sosial atau benar-benar berkontribusi dalam perubahan,” tandasnya.
Menurutnya, mahasiswa perlu memahami bahwa media sosial bisa menjadi alat perjuangan yang efektif, tetapi juga memiliki batas. Hanya dengan modal unggahan viral tanpa pemahaman mendalam, aktivisme digital justru bisa terjebak dalam siklus kemarahan tanpa hasil nyata.
Meninggalkan Negeri: Pelarian atau Strategi?
Sementara itu, Bartolomeus menyoroti isu “kabur” ke luar negeri yang sering kali dianggap sebagai bentuk kepasrahan atau ketidakpedulian. Menurutnya, tidak semua yang memilih pergi benar-benar meninggalkan perjuangan untuk Indonesia.
“Ada banyak orang yang belajar atau bekerja di luar negeri tetapi tetap berkontribusi untuk Indonesia. Yang menjadi masalah adalah ketika kita pergi bukan karena strategi, tapi karena putus asa,” tegas Bartolomeus.
Menurutnya, cara pandang mahasiswa menjadi penting, di mana apakah kepergian itu demi mencari ilmu dan peluang untuk kembali membangun negeri, atau sekadar bentuk keresahan dari realitas yang sulit.
Mahasiswa dan Tantangan Masa Depan
Diskusi ini juga menekankan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab lebih besar dari sekadar mengkritik atau mengeluh. Mereka harus mencari cara konkret untuk berkontribusi, baik dalam skala kecil maupun besar. Salah satu bentuk keterlibatan yang bisa dilakukan adalah menggunakan pemikiran kritis untuk menuntut kebijakan yang lebih baik, serta memanfaatkan jalur hukum seperti judicial review untuk menantang regulasi yang merugikan rakyat.
Bartolomeus dan Fidelis pun menegaskan bahwa mahasiswa sebagai agen perubahan semestinya bisa tetap mengambil peran untuk menuntut perubahan. “Kabur atau beraksi bukan sekadar pilihan hitam putih. Yang terpenting adalah, ke mana pun kita pergi, jangan pernah berhenti berjuang untuk Indonesia,” sambung Fidelis.